Tulisan Tempo dua bulan lalu, di halaman marginalia, menarik perhatian saya. Judulnya “Underdog Piala Dunia”. Penulis menyematkan julukan itu kepada Timnas Tanjung Verde ketika berhadapan dengan Spanyol. Menariknya, menurut penulis, orang-orang justru sering kali mendukung tim yang kurang diunggulkan ini.
Spanyol dan Tanjung Verde memiliki nasib yang berbeda. Dalam perhelatan Piala Dunia yang sudah berlangsung hampir seabad, Spanyol sudah menjadi langganan tim yang berlaga. Sebaliknya, Tanjung Verde baru menjadi tim debutan pada 2026. Meskipun begitu, ternyata Tanjung Verde berhasil mendudukkan hasil yang sama, 0-0 sampai menit terakhir pertandingan. Mereka berhasil memainkan ritme permainan yang apik meskipun tak ada jaminan mengungguli lawannya sejak awal.
Sebagai tim underdog, nasib Tanjung Verde mengingatkan penulis pada Sisifus dalam Le Mythe de Sisyphe karya Albert Camus. Dalam mitologi Yunani, Sisifus dikutuk untuk mengangkat sebuah batu besar ke puncak gunung. Namun, setiap kali hampir sampai di puncak, batu itu kembali menggelinding ke bawah. Lalu, ia mengangkatnya lagi. Begitu terus, tanpa akhir.
Potongan cerita ini ternyata pernah saya baca sebelumnya dalam buku Menghilang, Menemukan Diri Sejati karya Fahruddin Faiz. Dalam buku ini, Fahruddin Faiz menghadirkan berbagai konsep filsafat dari para filsuf, baik dari Barat maupun Timur.
Namun, sebelum lanjut, saya sarankan untuk mengambil segelas kopi terlebih dahulu sebagai teman membaca artikel ini. Sebagai tambahan, ulasan ini akan sedikit memberikan spoiler mengenai isi buku. Jadi, bagi yang ingin mendapatkan kejutan ketika membacanya langsung, bisa langsung skip saja.
René Descartes, Sang Penggagas Rasionalisme
Bagian pertama dalam buku ini mengajak kita berjabat tangan dengan tokoh pertama, René Descartes. Ia dikenal dengan sosok yang pertama kali mengenalkan aliran rasionalisme.
Rasionalisme sendiri menekankan peran rasio atau akal sebagai sumber penting pengetahuan. Berbeda dengan pendekatan empiris yang lebih mengandalkan pengalaman inderawi, Descartes meyakini bahwa akal memiliki peran penting untuk memahami kenyataan.
Contoh sederhananya begini. Ketika melihat gunung dari kejauhan, mata kita mungkin menangkap permukaannya sebagai sesuatu yang halus. Namun, akal mengatakan bahwa gunung itu tidak benar-benar halus. Di sana ada banyak pohon, bebatuan, dan jurang. Kesimpulan tersebut tidak semata-mata diperoleh dari apa yang ditangkap oleh mata, tetapi juga melalui kerja akal.
Adagium “aku berpikir, maka aku ada” (cogito ergo sum) juga berasal dari filsuf kelahiran Prancis ini.
Berintuisi Bersama Henri Bergson
Jika Descartes sebelumnya mengelu-elukan akal, Bergson justru menunjukkan keterbatasannya. Menurut Bergson, akal memiliki keterbatasan ketika berhadapan dengan pengalaman yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan secara rasional.
Apa contohnya? Cinta, misalnya. Akal kadang tidak bisa berkutik ketika berhadapan dengan cinta. Selain akal dan pancaindra, ada alat lain yang dapat membantu manusia memahami pengalaman semacam itu, yaitu intuisi.
Sayangnya, di era modern ini, intuisi sering kali termarginalkan alias dipandang sebelah mata. Pandangan yang lebih empiris dan rasional dianggap lebih superior.
Gagasan tentang intuisi ini juga erat kaitannya dengan tradisi agama dan spiritualitas. Dalam konteks Islam, misalnya, pengalaman spiritual dapat dikaitkan dengan bentuk pengetahuan yang tidak diperoleh semata-mata melalui proses rasional dan empiris. Kita mengenal wahyu, ilham, hingga ilmu laduni. Dalam tradisi tasawuf, bahkan terdapat kisah-kisah tentang orang-orang saleh yang memperoleh pengetahuan tanpa melalui proses belajar sebagaimana biasanya.
Di balik penjelasan konseptual tentang pemikiran masing-masing filsuf, pada setiap subbabnya Pak Faiz berhasil menghadirkan nilai-nilai filosofis yang dekat dengan kehidupan pembaca.
Ambil contoh ketika membahas intuisi ala Bergson. Pak Faiz juga menyinggung tentang jenis emosi manusia. Ada emosi yang bersifat normal dan ada pula yang kreatif. Misalnya, ketika kita merasa sedih karena diputuskan pasangan, itu adalah perasaan yang normal. Namun, ketika perasaan tersebut kemudian diolah menjadi sebuah puisi galau, itulah yang disebut sebagai emosi kreatif. Ketika jatuh cinta, jika berhasil menggambarkan perasaaan dalam bait-bait puisi itu juga disebut emosi kreatif.
Oleh karena itu, ketika sedang mengalami sesuatu, coba saja mengolahnya menjadi emosi kreatif. Sedih tidak harus berhenti sebagai kesedihan. Bisa jadi, ia justru menjadi bahan bakar untuk melahirkan sesuatu.
Absurditas ala Albert Camus
Setelah dibenturkan dengan dua konsep tentang akal dan intuisi, Pak Faiz kemudian membawa pembaca tenggelam dalam konsep absurditas ala Albert Camus.
Hidup itu absurd alias tidak selalu jelas. Kurang lebih, itulah gagasan utamanya. Absurd di sini bukan sekadar berarti hidup tidak masuk akal, tetapi ada begitu banyak pertanyaan dalam hidup yang tidak memiliki jawaban pasti. Ada pula banyak hal yang terjadi tanpa alasan yang sepenuhnya bisa kita pahami.
Misalnya, kebahagiaan. Kita bisa saja merasa bahagia ketika sedang miskin, kalah, atau berada dalam kondisi yang menurut orang lain seharusnya tidak membahagiakan. Tidak ada rumus pasti tentang kapan seseorang harus bahagia.
Sejak lama, para filsuf juga beradu jawaban tentang pertanyaan besar: apa makna hidup? Apa tujuan hidup? Pada akhirnya, pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak selalu memiliki jawaban yang pasti. Di situlah absurditas hadir.
Satu cerita dari mitologi Yunani tentang Sisifus sudah saya singgung di pembuka. Sisifus dihukum untuk membawa batu besar ke puncak gunung, hanya untuk melihatnya kembali menggelinding ke bawah. Ia bisa saja menyerah. Ia bahkan bisa memilih mengakhiri hidupnya. Namun, ia tetap menjalani siklus yang sama berulang kali. Menerima nasibnya, bahkan bisa dibilang menikmatinya.
Karena itu, saya punya kesimpulan sederhana: kalau sedang galau dan bimbang, mungkin ngopi dulu saja. Jangan buru-buru menyerah pada kehidupan yang memang kadang begini-begini saja.
Menemukan Diri melalui Tradisi Timur
Setelah diajak berkelana dengan pemikiran para filsuf dari Barat, pada bagian setengah terakhir buku ini pembaca dikenalkan dengan berbagai tradisi keagamaan, mulai dari Hindu, Buddha, hingga Zen, salah satu tradisi yang berkembang dalam Buddhisme.
Pola penjelasannya hampir sama. Pada awalnya, Pak Faiz mengenalkan sejarah dan latar belakang tradisi tersebut. Setelah itu, barulah pembaca diajak melihat bagaimana masing-masing tradisi memiliki cara untuk menemukan jati diri melalui konsepnya sendiri.
Dalam ajaran Zen, misalnya, dikenal praktik meditasi dan pencarian jati diri. Ketika diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, praktik ini bisa dilakukan dengan merenungkan diri sejenak sebelum atau sesudah bangun tidur, mengingat kembali apa yang telah dilakukan kemarin dan memikirkan apa yang akan dilakukan hari ini.
Sebenarnya, Pak Faiz tidak secara gamblang menempatkan Islam sebagai satu subbab khusus dalam buku ini. Namun, ia beberapa kali menghadirkan konsep-konsep Islam yang memiliki kemiripan dengan gagasan para filsuf maupun tradisi agama lainnya.
Misalnya, ketika membahas meditasi, penulis juga menyinggung salat sebagai salah satu sarana meditasi bagi seorang Muslim. Dengan begitu, pembaca Muslim seperti saya bisa menemukan kembali praktik-praktik yang sebenarnya sudah akrab dalam kehidupan sehari-hari, tetapi dilihat dari sudut pandang yang berbeda.
Refleksi Setelah Membaca Buku
Sebenarnya, saya sudah membaca buku ini beberapa kali, meskipun loncat-loncat. Kemudian, saya semakin intens membacanya kembali ketika berada di masa akhir perjalanan studi master.
Tahap kehidupan setelah jenjang master, saya kira, sangat relate dengan judul buku ini “Menghilang, Menemukan Diri Sejati“
Ada fase ketika seseorang perlu berhenti sejenak, menghilang dari hiruk-pikuk, lalu bertanya kepada dirinya sendiri: setelah ini mau ke mana? Apa yang sebenarnya ingin dicari? Apa yang ingin dilakukan pada chapter kehidupan berikutnya?
Membaca buku ini bagi saya bukan hanya tentang merencanakan langkah-langkah baru, tetapi juga belajar menerima bahwa tidak semua langkah bisa direncanakan. Ada takdir-takdir yang memang tidak bisa diprediksi.
Ingat kata Camus: hidup itu absurd. Tidak ada yang benar-benar pasti. Jadi, apa pun yang dilakukan ke depannya, mungkin kita perlu belajar menikmatinya. Kalau belum menemukan jawabannya, setidaknya seruput dulu segelas kopi.
Banyak sekali kalimat motivasi dalam buku ini yang tidak sanggup hanya saya potret lalu dibiarkan bertengger di galeri ponsel. Beberapa kali saya bahkan membagikan kata-kata indah Pak Faiz melalui Instagram Story. Barangkali, itu salah satu tanda bahwa buku ini berhasil meninggalkan sesuatu setelah selesai dibaca.
Terakhir, sebagai seseorang yang sebelumnya tidak terlalu peduli dengan filsafat karena menganggapnya ruwet, Faiz berhasil membuat saya jatuh cinta pada filsafat.